PENYUSUNAN MODUL AJAR PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DAN ASESMEN PADA KURIKULUM MERDEKA PADA SMA ISLAM AS-SYAFIAH DAN SMA POMOSDA DI KAB. NGANJUK

Pemerintah secara perlahan dimulai tahun ajaran 2021/2022 menerapkan kurikulum merdeka yang sebelumnya kurikulum 2013. Kurikulum merdeka dirancang utamanya karena krisis pembelajaran yang berkepanjangan dan diperparah dengan adanya pandemi COVID-19. Dalam kurikulum merdeka guru dituntut menyusun modul ajar berdiferensiasi yang dimulai dari asesmen diagnostik atau asesmen awal pembelajaran yang termasuk asesmen formatif yaitu asesmen untuk merancang strategi pembelajaran. Asesmen diagnostik ini difokuskan pada asesmen diagnostik kognitif yaitu untuk melihat kemampuan awal siswa yang berkaitan dengan mata pelajaran. Asesmen diagnostik kognitif ini menghasilkan nilai yang beragam dan dikelompokkan menjadi siswa dengan kemampuan tinggi nilai ≥ 80, menengah nilai 60 – 79, dan rendah nilai 0 – 59. Hasil dari asesmen diagnostik kognitif inilah yang menjadi data awal seorang guru menyusun modul ajar berdiferensiasi dan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi.

Hasil dari asesmen diagnostik kognitif ini digunakan untuk mengelompokkan siswa sesuai dengan tahapan kemampuan atau teaching at the right level dengan mengelompokkan siswa dengan kemampuan tinggi, menengah dan rendah. Pengelompokan siswa akan membuat guru menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dengan kebutuhan individu peserta didik sehingga pelayanannya berdiferensiasi sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik. Untuk itu guru akan mendiferensiasi konten atau materi ajar atau membuat materi ajar yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok tersebut. Guru juga akan mendiferensiasi proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi menyesuaikan dengan kebutuhan kelompok yang berbeda. Guru juga akan mendiferensiasi produk hasil belajar atau memberikan pilihan kepada siswa sesuai dengan kemampuan dan bakat minatnya. Guru juga akan mendiferensiasi asesmen sesuai dengan capaian pembelajarannya.

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat yang di Ketuai oleh Dr. M. Muchson, M.M. lolos seleksi memperoleh Dana Hibah dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (DIKTI) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (KEMDIKBUDRISTEK) dengan mitra pelaksana program SMA Islam As-Syafi’ah dan SMA POMOSDA Nganjuk, yang difasilitasi oleh Tim LPM/LPPM Universitas Nusantara PGRI Kediri .

Dalam pendampingan ini, Ellis Susmawati, S.Pd sebagai pemateri melaksanakan pendampingan pada SMA As-Syafiah dan SMA POMOSDA yang dilaksanakan selama 8 bulan. Berikut sekilas Profil dari SMA yang di dampingi oleh tim pengabdian UNP Kediri. SMA Islam As-Syafi’ah adalah satuan pendidikan yang berlokasi di Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk Jawa Timur, tepatnya di lingkungan Pondok Pesantren Al Mardliyah Mojosari Nganjuk. Sekolah mewajibkan peserta didik bermukim didalam pesantren. Yang Kedua adalah SMA Pondok Modern Sumber Daya At Taqwa (POMOSDA) terletak di Jl. KH. Wachid Hasyim No. 312 Tanjunganom Nganjuk. Lokasi ini berada di bagian timur dari jalan utama Jl. A. Yani. SMA POMOSDA berdampingan dengan SMK PSM Tanjunganom dan STT POMOSDA.

Kedua SMA tersebut merupakan sekolah penggerak yang melaksanakan kurikulum merdeka (yang sebelumnya kurikulum 2013) pada kelas X. Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Nusantara PGRI Kediri melakukan sosialisasi Penyusunan Modul Ajar Pembelajaran Berdiferensiasi dan Asesmen Pada Kurikulum Merdeka di SMA As-Syafiah pada Hari Sabtu, 22 Juli 2023 yang kemudian dilanjutkan dengan pendampingan penyusunan mulai tanggal 2 September 2023 hingga 23 September 2023.

Diberikan sosialisasi terlebih dahulu bertujuan untuk para peserta workshop mengetahui gambaran tentang bagaimana pembelajaran yang berdeferensiasi dan asesmen pada kurikulum merdeka. SMA As-syafi,ah sebagai salah satu SMA penggerak di Nganjuk memiliki kewajiban untuk mampu menyusun Modul Ajar sesuai dengan pembelajaran kurikulum merdeka yaitu modul ajar berdiferensiasi dan asesmen terutama asesmen diagnostik atau asesmen awal pembelajaran. Komponen modul ajar adalah: A. Identitas modul (ditambah dengan Profil Pelajar Pancasila, Kemampuan awal, pertanyaan pemantik), B. Tujuan Pembelajaran, C. KKTP-Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran, D. Kegiatan Pembelajaran, E. Asesmen, F. Materi Pembelajaran, G. Media Pembelajaran, H. Strategi Pembelajaran, I. Sumber Belajar.

Hasil pengabdian berupa modul ajar berdiferensiasi untuk seluruh mata pelajaran yaitu 18 mata pelajaran yaitu Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Seni Budaya, Penjasorkes, Informatika, Kewirausahaan, Bahasa
Jawa, dan Bimbingan Konseling.

Pendampingan yang dilakukan Tim Pengabdian di SMA POMOSDA di mulai dengan adanya sosialisasi terlebih dahulu. Sosialisasi ini terkait dengan bagaimana sistem pembelajaran kurikulum merdeka tanggal 29 Juli 2023 yang kemudian dilanjutkan workshop pendampingan di mulai tanggal 12 Agustus hingga 7 oktober 2023. Hal ini berfungsi agar adanya forum diskusi yang dapat dimunculkan dalam penyusunan modul ajar. Dikarenakan siswa yang begitu beragam tingkat kemampuannya mengharuskan guru menyusun modul ajar berdiferensiasi dan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi.

Terimakasih kami ucapkan kepada Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (DIKTI) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (KEMDIKBUDRISTEK) telah meloloskan proposal PKM terkait pendampingan penyusunan modul ajar berdeferensiasi dan asesmen pada kurikulum merdeka. Dengan memanfaatkan dana hibah DRTPM untuk kegiatan pendampingan para guru, maka diharapkan mampu membantu guru dalam menyusun modul ajar berdeferensiasi dan asesmen pada kurikulum Merdeka. Sehingga guru mampu melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yaitu menganggap siswa dalam satu kelas itu heterogen bukan homogen sehingga siswa diberi pelayanan yang berbeda sesuai dengan tahapan kemampuan siswa (teaching at the right level). Guru juga mampu menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dengan kebutuhan individu peserta didik. Bagi Universitas untuk tahun berikutnya semoga semakin banyak proposal yang lolos hibah DRTPM.

(Mochamad Muchson1, Susi Damayanti2, Dian Kusumaningtyas3, Linda Rensy Widayani4, Lucy Amelia5)